Gubernur Resmikan Wilayah Pekojan Sebagai Kampung Welas Asih

Pekojan resJakarta – Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Saefullah, meresmikan Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, sebagai Kampung Welas Asih pertama dan satu-satunya di DKI Jakarta.

Saefullah hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang secara mendadak batal menghadiri peresmian tersebut. “Dikarenakan Pak Gubenur Anies Rasyid Baswedan ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga secara mendadak saya ditugaskan ke sini,” kata Saefullah dalam pidatonya di Kelurahan Pekojan, Rabu (21/3).

Lanjutnya, “dengan berucap Bismillah dan memohon ridho Allah, Tuhan Yang Maha Esa, hari ini Rabu 21 Maret 2018, Kelurahan Pekojan sebagai Kampung Welas Asih resmi saya Launching,” kata Saefullah yang diiringi tepuk tangan dari masyarakat Pekojan.

Sementara itu, Lurah Pekojan, Tri Prasetyo Utomo menyatakan, meskipun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berhalangan hadir, tidak menyurutkan antusiasme warga Pekojan untuk menyaksikan peresmian Pekojan sebagai Kampung Welas Asih.

“Gubernur pada prinsipnya lewat sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Pak Saefullah menyatakan respon positifnya dan akan menularkan pada kelurahan lain. Kedepannya kami yakin beliau akan hadir. Kami memaklumi ketidakhadiran Pak Gubernur,” tutur Lurah Pekojan Tri Prasetyo Utomo.

Sebelumnya, berbagai kegiatan dilakukan kelurahan Pojokan termasuk 14 Februari 2018, lalu Lurah Pekojan, Tri Prasetyo Utomo, memberikan kado spesial bagi warganya melalui peluncuran ‘Soft Launching’ layanan pojok terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Bahkan kami berikan ruang khusus di lantai 4 untuk terapi ABK. Ini gratis atau tidak dipungut biaya,” kata Tri Prasetyo Utomo.

Sebagai simbolis, Lurah Pekojan menerima alat terapis ABK dari Compassionate Foundation, untuk selanjutnya diserahkan kepada PKK Pokja II selaku pengelola pojok terapi.

“Ini dalam rangka hari kasih sayang, karena kami pelaksana welas asih, maka kami berbagi kasih sayang dengan ABK berupa alat dan pojok terapi,” ungkap Tri.

Di ruangan pojok terapi ABK Kelurahan Pekojan, terdapat fasilitas terapi, arena belajar dan bermain, bahkan perpustakaan bagi anak dan orang tua.

Tujuannya, untuk bagaimana memberikan suatu pembelajaran kepada orang tua, guru dan masyarakat dalam menangani ABK agar tumbuh kembangnya menjadi lebih optimal.

“Dari enam bulan berjalan, Alhamdulillah ada kemajuan,” ujar Tri.

Farah, salah satu orang tua ABK, mengaku tumbuh kembang anaknya yang menderita ADHD menjadi lebih optimal setelah mengikuti terapi ABK di Kelurahan Pekojan.

“Perkembangannya Alhamdulillah. Sekarang sudah bisa bicara walau satu atau dua kata. Kalau ingin sesuatu, anak saya colek tangan saya dan tunjuk apa yang diinginkannya. Dulu nggak begitu,” terang Farah.

Sambung Tri, saat ini terdapat 14 orang ABK di Kelurahan Pekojan yang mengikuti terapi rutin setiap hari Rabu.

“12 orang ABK itu rutin menjalani terapi, sedangkan 2 orang lainnya temporer karena mereka tinggal di luar Pekojan bersama kakek-neneknya,” tutur Tri.

Kelurahan Pekojan dipilih sebagai satu-satunya kelurahan di Indonesia sebagai ‘Pilot Project’ welas asih oleh Compassionate Foundation, organisasi yang berbasis di Amerika Serikat.

“Pekojan itu cukup unik, kepadatan penduduknya tinggi, kejahatannya tinggi, kebakaran tinggi, tapi ada kemauan besar untuk berubah lebih baik terutama dari lurahnya.” Demikian kata Ali, perwakilan Compassionate Foundation di Pekojan.

Selain itu, bertepatan dengan hari valentine, Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Rabu (14/2/2018), mengadakan seminar keluarga dan pendidik untuk menangani Anak Berkebutuhan Khusus.

Tema seminar ini adalah “Menggali Potensi Anak Berkebutuhan Khusus Untuk Mencapai Tumbuh Kembang Yang Optimal”.

“Jadi pada (14/2) kami Kelurahan Pekojan ingin memberikan sesuatu yang istimewa bagi warga, bukan cokelat ataupun bunga mawar, tapi alat terapi untuk Anak berkebutuhan Khusus,” kata Lurah Pekojan, Tri Prasetyo Utomo.

Sekitar 40 ibu-ibu dari perwakilan RW, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), PKK RW 01 sampai RW 012, Guru PAUD, SD dan SMP, hadir dalam seminar ABK ini.

Peserta seminar mendapatkan penjelasan mengenai cara penanganan ABK agar tidak salah didik, dari Konsultan dan Praktisi ABK, Abdul Ghofar.

“Banyak orang tua yang tidak mengetahui apalagi memahami anaknya yang memiliki kebutuhan khusus,” ujar Abdul Ghofar.

Jika orang tua ABK tidak memahami cara mendidik anaknya, maka besar kemungkinan akan terjadi kekerasan terhadap anak.

“Bisa kekerasan verbal bahkan fisik, itu bahaya bagi anak,” jelas Mujtahidin, Penanggung jawab Compassionate Village Pekojan.(Her)